Minggu, 31 Mei 2020

Webinar "Perilaku Penyerangan Macaca maura pada Tanaman Pertanian dan Upaya Konservasinya"

Webinar kedua yang diselenggarakan oleh Forum Alumni Jagawana Watukosek 1998/1999 dilaksanakan pada hari Sabtu 30 Mei 2020 pukul 09.00-11.00 WIB.  Webinar kali ini membahas mengenai "Perilaku Penyerangan Macaca maura pada Tanaman Pertanian dan Upaya Konservasinya (Studi Perilaku Penyerangan pada Tanaman Pertanian)". Narasumber webinar adalah Pemilu Arman Labahi, SP., M.A.P., M.Sc, salah satu alumni yang saat ini bertugas sebagai Widyaiswara pada Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar.

Acara webinar dipandu oleh Dheny Mardiono, S.Hut., M.Sc.  dan dibuka oleh Ketua Forum Alumni Jagawana Watukosek 1998/1999  (RM.Wiwied Widodo, S.Hut., MSc.).   Dalam sambutannya, ketua forum mengawali dengan memberikan ucapan selamat ulang tahun kepada Edward Sembiring, S.Hut., M.Sc., yang hari itu berulang tahun yang ke-47.  Ketua forum juga menegaskan kembali bahwa Webinar ini sebagai ajang komunikasi antar alumni dan diharapkan teman-teman lain bisa mendaftar untuk webinar berikutnya, agar bisa berbagi pengalaman antara satu dengan lainnya.
Narasumber memulai pembahasannya dengan menjelaskan bahwa Macaca maura adalah satwa endemik Sulawesi dan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Diklat Kehutanan Tabo-Tabo merupakan salah satu habitatnya.  KHDTK ini luasnya 601,25 ha. Tubuh Macaca maura umumnya berwarna hitam, atau coklat gelap. Individu muda lebih pucat warnanya dibanding individu dewasa.  Panjang tubuhnya berkisar 50 - 70 cm.  Bantalan duduk pada Macaca maura berbentuk seperti sepasang ginjal. Khusus pada betina dewasa, bantalan duduk akan membengkak besar (sexual swelling) & berwarna merah jambu bila sedang birahi (estrus).

Macaca maura yang belum dewasa, pada bagian muka, telapak tangan & telapak kaki tidak  ditumbuhi rambut & berwarna hitam.  Kepala berjambul pendek & rebah, serta mempunyai moncong yang pendek. Warna tubuh bagian ventral lebih muda daripada bagian dorsalnya. Kaki biasanya lebih panjang dari pada tangannya.
Perilaku kelompok Macaca yang bergerak bersama-sama sering menimbulkan suara, terutama pada saat memasuki daerah perkebunan dan memakan hasil pertanian. Jantan selalu berbunyi untuk mengontrol anggota kelompoknya. Suara ini akan lebih keras bila ada bahaya, sehingga anggota kelompok dengan cepat memasuki hutan. 
Informasi perilaku penyerangan kami dapatkan melalui survei, pengamatan langsung dan wawancara. Perilaku yang diamati adalah: 1). Perilaku mengintai, 2). Penyerangan awal, 3). Saat memilih dan memakan tanaman yang diinginkan, 4). Pengamanan setelah selesai menyerang tanaman, dan 5). Perilaku saat meninggalkan lokasi setelah keluar dari lokasi penyerangan, serta perilaku lain yang spesifik.

Perilaku mengintai dilakukan oleh jantan dewasa dominan (sebagai ketua kelompoknya) dengan cara mengeluarkan suara seperti bersiul, dengan adanya keterlibatan Burung Kadalan Sulawesi yang selalu berkicau yang berperan sebagai pemandu. 

Perilaku penyerangan awal didahului oleh masuknya jantan dewasa dominan ke dalam kebun, lalu diikuti anggota kelompok jantan dan betina dewasa, jantan dan betina muda, serta anak-anak, namun yang anak-anak keberadaan mereka di dalam kebun hanya di pingir kebun atau sekitar pagar, sedangkan yang infant (bayi) digendong oleh betina dewasa. 

Perilaku saat memilih dan memakan tanaman yang diinginkan.  Kelompok umur dewasa mempunyai perilaku yang sangat agresif. Sumber pakan yang menjadi prioritas adalah yang mudah didapat dan dijangkau yaitu jagung, selain untuk kebutuhannya Macaca maura jantan dan betina dewasa juga berbagi pada kelompok umur anak-anak dan infant.

Perilaku Pengamanan setelah menyerang tanaman pertanian.  Saat akan meninggalkan kebun Jantan Dewasa Dominan akan mengeluarkan suara. Pada saat itu diikuti oleh kelompok umur anak-anak, jantan dan betina dewasa muda, betina dewasa yang menggendong infant, serta jantan dan betina dewasa, lalu yang terakhir meninggalkan kebun adalah jantan dewasa dominan, sambil mengeluarkan suara. Suara tersebut disahuti oleh anggota kelompok yang lain sambil berlari menjauh dari kebun.

Perilaku saat meninggalkan lokasi.  Sesaat setelah keluar dari kebun atau lokasi penyerangan, ketua kelompok Macaca maura sejenak berhenti, dan kembali mengamati lokasi penyerangan dan kembali mengeluarkan suara, namun suara yang dikeluarkan terdengar lebih nyaring daripada suara saat pertama memasuki lokasi penyerangan, dan suara tersebut disahuti oleh anggota kelompok yang lain yang telah lebih duhulu keluar dari kebun.   

Status konservasi Monyet Hitam Sulawesi (Macaca maura) , masuk dalam daftar CITES Appendix II, dilindungi dengan SK. Menteri Pertanian Nomor 90/Kpts/Um/2/1977, yang saat ini statusnya terancam dari bahaya kepunahan atau “endangered”. Upaya konservasi yang dilakukan antara lain : menjaga keberlangsungan ketersediaan pakan dengan pembinaan habitat dan pembuatan koridor, Pengamanan habitat dengan penjagaan kawasan dan patroli, penyadartahuan pada masyarakat melalui penyuluhan, expose, papan himbauan dan penindakan hukum.

Diakhir pemaparan narasumber menyampaikan kesimpulan bahwa perilaku penyerangan Macaca maura pada tanaman pertanian di dalam kawasan KHDTK Tabo-Tabo mempunyai pola yang khas, yang secara berurutan dimulai dari : mengintai, penyerangan awal, memilih dan memakan pakan yang diinginkan, pengamanan setelah menyerang tanaman, lalu meninggalkan lokasi dengan cara yang khas.
Moderator selanjutnya membuka sesi tanya jawab. Ada beberapa pertanyaan dan masukan yang harus dijawab dan ditanggapi oleh narasumber antara lain :
  1. Bagaimana memastikan macaca maura hanya memiliki hanya satu pohon tidur? adakah pohon tidur bayangannya?
  2. Judulnya terkesan menyalahkan satwa liar? Bgmn dgn sejarah keberadaan Macaca maura dan habitatnya di Tabo-tabo? Apakah ada jalur migrasi yg khusus Jenis satwa ini? Daerah jelajahnya atau home rangenya berapa luas per ekor atau per kelompok?
  3. Bagaimana kita mengetahui patabilitas dari kelompok ini atau kelompok lain di hutan diklat ini?
  4. Bagaimana strategis dalam pengelolaan macaca maura dalam pengusahaan masyarakat tani di sekitar hutan Diklat?
  5. Kalau macaca menyerang tanaman pertanian, kira2 upaya apa yang dilakukan untuk menghindari penyerangan.
  6. Apakah ada jenis satwa liar lainnyanya yang menjadi satwa eksotik setempat? dalam pengendalian populasi macaca maura (key spesies)
  7. Apa makanan pokok Macaca maura di dalam Hutan Diklat Tabotabo, Apakah sudah dihitung daya dukung dan daya tampungnya? Berapa ekor jumlah maksimal jenis ini di Tabo-tabo? Bgmn konsep pembinaan habitatnya?
  8. Perlu ada pembanding pada habitat lain, untuk melihat penyebab penyerangan atau keluarnya macaca keluar habitat. Untuk melihat diantaranya utk mendapatkan data apakah habitat telah rusak, sehingga perlu dilakukan habitat, dll.
  9. Bagaimana perubahan perilaku masyarakat sekitar area penyerangan? Di beberapa lokasi terjadinya konflik satwa liar biasanya masy merubah pola pertanianiannya.
  10. Mohon maaf, ini adalah kekeliruan dengan memberikan umpan jagung, hal ini yang diduga menjadi penyebab penyerangan macaca maura terhadap kebun jagung. Patabilitas yang di hutan apa yang tersedia untuk menjawab kebutuhan pakan macac maura tersebut
  11. Apakah ada sejarah zoonosis satwa ini?
  12. Kawasan Tabo Tabo merupakan daerah penyangga bagi TN Bantimurung Bulusaraung dan di TN Babul juga dilakukan penelitian prilaku Macaca Maura baik yg dilakukan oleh pihak TN dan Akademisi, jadi untuk penelitian ini dapat mengambil data pembanding hasil penelitian yg dilakukan...
  13. KALAU macaca maura menyukai tanaman pertanian seprti Jagung, apakah sebaiknya tanaman pertanian juga di tanam di HTN Tabo Tabo untuk memenuhi Pakannya
  14. Penyebab terjadinya konflik karena kurangnya ketersediaan pakan yang ada dihutan sehingga macaca mencari makan diluar hutan. salah satu penyebabnya adalah adanya jenis tanaman Spathodea campulata atau disebut kembang kecrup yang menekan pertumbuhan pakan macaca maura di hutan
  15. Pemberdayaan masyarakat bentuknya apa saja? mungkin konsep ekowisata, sehingga masyarakat bias menjadi pemandu atau tidak mengandalkan hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya….ndan dheni jagonya, bias diadopsi dari ekowisata banteng di perkebunan
Diakhir webinar dilanjutkan dengan foto Bersama dan karena ketua forum alumni ada tugas yang mendesak, maka kegiatan webinar ditutup oleh Edward Sembiring, S.Hut., M.Sc.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar